Senin, 13 Maret 2017

Meti Riawati, Ibu yang Bijaksana

Setelah lima tahun mengajar sebagai guru TK, Meti Riawati memutuskan untuk keluar dan menjadi guru untuk anak-anaknya sendiri. Ada sesuatu yang hilang jika ia terus menerus mengajar di sekolah: ia mendidik anak-anak orang lain sedang anaknya sendiri todak bisa menikmati  didikannya.


Sekarang ibu dari dua anak ini mendidik anak-anaknya di rumah secara langsung. Kedua anaknya belajar di rumah alias menjalani homeschooling. Semua bahan ajar, pengajaran, evaluasi, kurikulum diatur bersama sang suami. 

Minggu, 17 Januari 2016

Kisah Sepeda yang Mengharukan, Buah dari Homeschooling


Mengharukan. Hatta dan ibundanya jalan-jalan melewati toko sepeda bekas. Dia melihat sebuah sepeda bagus berwarna merah. Bukannya merengek-rengek ingin segera dibelikan, tetapi anak sulungku yang berumur 9 tahun ini bilang sama ibunya, "Ibund, aku mau menabung untuk bisa beli sepeda itu."

Tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya yang melihat barang bagus yang langsung gulung koming, Hatta justru mau berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Dia berjanji kepada ibundanya akan rajin mengerjakan buku latihan soal --- karena ia tahu akan mendapat rewards uang ---- dan tidak jajan.

Mendengar kakak dan ibu berbicara soal beli sepeda, si adik kecil, Aalaa Husaina, ikut nimbrung. "Ibund, Ibund, aku juga mau dibelikan sepeda," katanya. Tanpa dinyana tanpa diduga, Hatta menimpali, "Adik, kalau Adik mau sepeda, minta sama Allah setelah sholat."

Waktu ibunda sholat, tanpa diajak tanpa dipaksa, si mungil yang baru berumur 4 tahun ini ikut sholat di samping ibunya. Setelah selesai sholat, ia langsung berdoa, "Ya Allah, aku mau sepeda." Habis itu, langsung lari ke kakaknya dan bilang, "Mas, aku sudah minta sama Allah. Kapan diberi?" Jawab Hatta, "Nggak tahu."

Esok harinya, Aalaa menagih lagi, "Mana sepeda (dari Allah)? Ibund, ayo cari sendiri saja." Ibunda menjawab, "Dik Aalaa, selain berdoa, kamu juga harus menabung uang untuk  beli sepeda. Agar bisa menabung, Adik harus bekerja: mandi sendiri, ganti baju sendiri, tidak jajan, merapikan mainan, merapikan kamar."

Esok harinya Hatta dan Aalaa diajak ke warung oleh tantenya. Ditawari mau jajan apa. Apa jawabnya? "Aku nggak jajan, Te. Uangnya aku tabung saja untuk beli sepeda."

Tidak sampai di situ kisah "sepeda" ini. Mengetahui neneknya jualan telur asin di car free day (CFD), Hatta bahkan punya ide ingin jualan di samping nenek agar cepat bisa ngumpulkan uang. Subhanalloh! Semoga sepedamu cepat kau raih, Nak!

Sabtu, 19 Desember 2015

Journey to Riyadh (2)

Begitu menginjakkan kaki di Riyadh hmm rasa heran menghinggapi pikiran. Sepanjang mata memandang tidak ada tumbuhan hijau. Semuanya tanah tandus, gersang, cadas. Kontras dengan kondisi di Indonesia di mana setiap penjuru pasti ijo royo-royo. Pikiran langsung ngelantur, bagaimana orang-orang bisa hidup makmur di bumi yang kering begini?

Begitu sampai di homestay barulah terjawab lanturan saya tadi. Di lingkungan saya tinggal ini, ada beberapa toko penjaja makanan. Kebanyakan kue-kuean, tapi mau buah-buahan ada, sayur-mayur ada, banyak! Dari mana mereka mendapatkannya? Impor! Negeri ini kaya-raya dengan minyak dan jamaah haji dan umroh. Dari situ milyaran dollar terkumpul. Mau apa saja, terkabul deh!

Rabu, 16 Desember 2015

Buku Pelajaran Setahun Matematika sudah Habis Dilahap Hatta hanya 6 Bulan!

Pelajaran Matematika kelas 3 SD sudah habis dilahap Hatta hanya dalam waktu satu semester. Padahal, teman-temannya yang belajar di sekolah publik baru ujian semester satu. Untuk "prestasinya" ini ia berhak mendapat "award" tabungan Rp 140.000,00 sebagaimana kami sepakati di awal. Jika satu bab selesai, maka Hatta mendapat hadiah Rp 10.000,00 ke rekening tabungannya. Buku Matematika kelas 3 SD ini memuat 14 bab, jadi hadiah prestasi dia dari mapel Matematika Rp 140.000,00.

Sedangkan Bahasa Inggris nanti ada 10 Lesson. Sekarang sudah menginjak Lesson 4. Untuk bahasa Inggris kalau selesai, Hatta akan mendapat reward Rp 100.000,00..
 Ayo lahap terus bukunya, Hatta Anak Hebat!

Journey to Riyadh

Perjalanan ke Riyadh. Bagi banyak orang naik pesawat terbang mungkin sudah biasa. Tapi, bagi saya ini pengalaman yang sama sekali baru. Mulai dari membeli tiket, bagasi, check in, boarding, dan take off. Hmmm

Namanya juga orang udik. Beli tiket pesawat banyak tanya sana-sini. Biar nggak kelihatan ndeso, belinya bareng-bareng, rombongan.

Terbang dari Jakarta menuju Riyadh memakan waktu sekitar 9 jam. Sebelum sampai di bandara King Khalid Riyadh, pesawat transit dulu di Dubai, Qatar. Jakarta-Qatar sekitar 8 jam. Sedang dari Qatar ke Riyadh 1 jam. Walau demikian, perlu diingat bahwa antara Jakarta dan Riyadh itu selisih 4 jam, dengan Jakarta mendahului Riyadh. Jadi, meski dari Jakarta take off pukul 01.00 tapi sampai di Riyadh jam 5 pagi. Serasa 4 jam?? :) lol.

Tentang bagaimana kisah-kisah selanjutnya di Riyadh, tunggu posting selanjutnya....! :)

Minggu, 11 Oktober 2015

Belajar Menjadi "Guru" dari Ibu Thomas Alva Edison


 Nancy Edison

Thomas Alva Edison terkenal sebagai Bapak Penemu karena banyaknya temuan-temuan yang dia ciptakan. Ribuan ciptaan yang ia hasilkan untuk mempermudah manusia memenuhi hajat hidupnya. Mulai dari lampu listrik sampai pita rekam video. Di balik itu semua tak bisa diabaikan peran sang ibu, Nancy Edison, sebagai guru pribadinya.

Semenjak Thomas dikeluarkan dari sekolahnya karena sering tidur di kelas dan selalu ketinggalan pelajaran, ibunyalah yang menjadi guru untuk dirinya sendiri. Suatu ketika, Thomas membawa surat dari sekolah untuk ibunya. Thomas memberikan surat itu sambil mengatakan bahwa surat itu hanya untuk ibunya. Ibunya menangis membaca surat itu. Ia membacakannya kepasa Thomas: "Anak kamu terlalu jenius. Sekolah ini terlalu sederhana dan tidak cukup guru yang baik untuk melatihnya. Ajarilah ia sendiri secara langsung!"
Thomas kecil

Mulailah ibunya mengajar Thomas di rumah, dan tidak pernah lagi Thomas pergi ke sekolah. Seluruh sudut rumah menjadi laboratorium pribadi. Ibunya membiarkan Thomas mengeksplorasi seluruh barang yang ada di rumah. Tidak apa-apa tampak berantakan semua, bahkan ruang tidur Thomas.

Thomas Alva Edison, si Homeschooler

Waktu berlalu, ibunya yang sudah tua meninggal. Thomas menjadi orang paling jenius di sepanjang abad. Suatu ketika Thomas membuka laci meja ibunya dan menemukan surat dari sekolahnya dahulu yang hanya boleh dibaca oleh ibunya. Karena penasaran, Thomas membaca sendiri surat itu: "Anak kamu punya masalah kejiwaan. Kami tidak mengizinkan lagi ia datang ke sekolah ini selamanya." Hati Thomas remuk redam, menangis berjam-jam. Di buku hariannya ia menulis: "Thomas Alva Edison, seorang anak gila, yang oleh seorang pahlawan, yaitu ibunya, diubahnya menjadi orang paling jenius sepanjang abad!"

Thomas dan salah satu penemuannya, phonograph

Perkataan yang buruk dapat merusak moral dan mental seseorang. Perkataan yanf baik dapat memotivasi orang untuk menjadi yang terbaik.
Thomas Alva Edison, Bapak Penemu Dunia

Sabtu, 03 Oktober 2015

Matematika-nya sudah Bab 7!

Hatta saat ini sudah di bab 7 untuk Matematika kelas 3 SD. Di bab "uang" (bab 6) Hatta mengerjakan soal-soal latihan hanya dalam tempo 2 hari. Ini paling cepat di antara bab-bab yang lain. di bab 7 ini Hatta belajar tentang satuan waktu dan panjang: tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, meter kilometer, cm, dan seterusnya. Kalau berhasil mengerjakan satu bab, Hatta mendapatkan rewards berupa tabungan Rp 10.000,00 ke rekening tabungannya. Tabungan Hatta sudah lumayan. Kemarin Hatta menarik beberapa rupiah untuk membeli kambing betina. Hatta ingin belajar beternak kambing.